Wednesday, September 19, 2012

PENGANTIN BIDADARI

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Sebagai seorang pengantin,..
wanita lebih cantik dibanding seorang gadis ..
Sebagai seorang ibu, ..
wanita lebih cantik dibanding seorang pengantin ...
Sebagai istri dan ibu, ..
ia adalah kata-kata terindah di semua musim ..
dan dia tumbuh menjadi lebih cantik bertahun-tahun kemudian …

***

Syahdan, di Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid. Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat.

Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah. Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan.

Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah.

“Coba engkau temui langsung Baginda Nabi, semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu”, nasihat mereka.

Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi.

Sambil tersenyum beliau berkata:
“Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?”

“Seandainya itu adalah saran darimu, saya terima. Ya Rasulullah, putri si Fulan itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran dari siapapun.

“Katakanlah aku yang mengutusmu”, sahut Baginda Nabi.
“Baiklah ya Rasul”, dan Zulebid segera bergegas bersiap dan pergi ke rumah si Fulan.

Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh Fulan
“Ada keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah saya?” Tanya Fulan.

“Rasulullah saw yang mengutus saya ke sini, saya hendak meminang putrimu si A.” Jawab Zulebid sedikit gugup.

“Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan dulu kepada putriku.”

Fulan menemui putrinya dan bertanya, “bagaimana pendapatmu wahai putriku?”

Jawab putrinya, “Ayah, jika memang ia datang karena diutus oleh Rasulullah saw, maka terimalah lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi istrinya.”

Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya ke rumahnya.
Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata,” duhai Anda yang di wajahnya terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau idamkan selama ini? Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu?”

Jawab istrinya, ” Engkau adalah lelaki pilihan rasul yang datang meminangku. Tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada kebahagiaan selain menanti tibanya malam yang dinantikan para pengantin.”

Zulebid tersenyum. Dipandanginya wajah indah itu ketika kemudian terdengar pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan berjihad dalam perang.

Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya.

“Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung batinku, demikian besar tumbuhnya cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum keberangkatanku ke medan perang. Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan hidup kita ini.”

Istrinya menyahut, “Pergilah suamiku, betapa besar pula bertumbuhnya kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu”

***

Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke medan perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga beberapa orang musuh pun tewas ditangannya.

Ia bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhid … ketika sebuah anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di dadanya. Zulebid terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang berseliweran di udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak beraturan, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya.

Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu dekat. Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu dikasihinya. Teringat akan masa kecilnya bersama-sama saudaranya. Berlari-larian bersama teman sepermainannya.

Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati, dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya. Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi. Senyum yang begitu manis menyertainya tatkala ia berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk memandangnya sambil mendoakannya.

Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir Zulebid. Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum menghiasinya … Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur sebagai syuhada.

***

Senja datang ..
Angin mendesau, sepi …
Pasir-pasir beterbangan …
Berputar-putar …

Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang gugur dalam perang. Di antara para mujahid tersebut terdapatlah tubuh Zulebid yang tengah bersandar di tumpukan mayat musuh.

Akhirnya dikuburkanlah jenazah zulebid di suatu tempat. Berdampingan dengan para syuhada lain.

Tanpa dimandikan …
Tanpa dikafankan …

Tanah terakhir ditutupkan ke atas makam Zulebid.

Rasulullah terpekur di samping pusara tersebut.
Para sahabat terdiam membisu.

Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti menahan isak tangis. Air mata berlinang di dari pelupuk mata beliau
Lalu beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah menengadah ke atas sambil tersenyum.

Wajah beliau berubah menjadi cerah. Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan mata beliau.

Akhirnya keadaan kembali seperti semula ..
.Para shahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan Rasulullah.
“Wahai Rasulullah, mengapa di pusara Zulebid engkau menangis?”

Jawab Rasul, “Aku menangis karena mengingat Zulebid. Oo .. Zulebid, pagi tadi engaku datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan malam Zafaf, malam yang ditunggu oleh para pengantin.”

“Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?” Tanya sahabat lagi.

” Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan udara menjadi wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput Zulebid,” Jawab Rasulullah.

“Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandangannya dan menoleh ke samping?” Tanya mereka lagi.

“Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang menjemput Zulebid, beberapa diantaranya berebut memegangi tangan dan kaki Zulebid. Hingga dari salah satu gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya ….”

***
Di rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak kunjung kembali. Ketika terdengar kabar suaminya telah menghadap sang ilahi Rabbi, Pencipta segala Maha Karya.

Malam menjelang …
Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi dan dan nyata ..

Lamat-lamat ia seperti melihat Zulebid datang dari kejauhan .. Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan kesedihan pula ..

Terdengar Zulebid berkata, “Istriku, aku baik-baik saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari sejatiku. Semua bidadari disini pabila aku menyebut namamu akan menggumamkan cemburu padamu…. Dan kan kubiarkan engkau yang tercantik di hatiku ..."

Istri Zulebid, terdiam.
Matanya basah …
Ada sesuatu yang menggenang disana ..

Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi pagi ..
Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir ..
Ia menggerakkan bibirnya ..
“Suamiku, aku mencintaimu …
Dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita ..
Aku ikhlas ….

Tuesday, August 7, 2012

RINDU

Aku rindu zaman ketika Halaqoh adalah Kebutuhan,
bukan sekedar SAMBILAN apalagi HIBURAN …

Aku rindu zaman ketika MEMBINA adalah KEWAJIBAN
bukan PILIHAN apalagi BEBAN dan PAKSAAN …

Aku rindu zaman ketika DAUROH menjadi KEBIASAAN,
bukan sekedar PELENGKAP PENGISI PROGRAM yang dipaksakan …

Aku rindu zaman ketika TSIQOH menjadi KEKUATAN,
bukan KERAGUAN apalagi KECURIGAAN …

Aku rindu zaman ketika TARBIYAH adalah PENGORBANAN,
bukan TUNTUTAN, HUJATAN dan OBYEKAN….

Aku rindu zaman ketika NASIHAT menjadi KESENANGAN
bukan SU’UDZON atau MENJATUHKAN …

Aku rindu zaman ketika kita semua
MEMBERIKAN SEGALANYA UNTUK DA’WAH ini …

Aku Rindu zaman ketika nasyid “GHUROBA”
manjadi LAGU KEBANGSAAN…

Aku rindu zaman ketika hadir LIQO adalah KERINDUAN
dan TERLAMBAT adalah KELALAIAN …

Aku rindu zaman ketika malam GERIMIS
pergi ke PUNCAK mengisi DAUROH
dengan ongkos yang NGEPAS
dan peta TAK JELAS …

Aku rindu zaman ketika seorang IKHWAH
benar-benar BERJALAN KAKI 2 JAM
di MALAM BUTA sepulang TABLIGH DA’WAH di desa sebelah …

Aku rindu zaman ketika pergi LIQO
selalu membawa INFAQ, ALAT TULIS, buku CATATAN
dan QUR’AN terjemah ditambah sedikit HAFALAN …

Aku rindu zaman ketika BINAAN MENANGIS
karena TAK BISA HADIR DI LIQO …

Aku rindu zaman ketika TENGAH MALAM pintu DIKETUK
untuk mendapat BERITA KUMPUL di subuh harinya …

Aku rindu zaman ketika seorang IKHWAH
berangkat LIQO dengan Uang jatah belanja esok hari untuk KELUARGANYA …

Aku rindu zaman ketika seorang MUROBBI
SAKIT dan harus DIRAWAT,
para binaan PATUNGAN mengumpulkan dana apa adanya …

Aku rindu zaman itu …

Ya Rabb …
Jangan Kau buang kenikmatan berda’wah dari hati-hati kami …

Ya Rabb …
Berikanlah kami keistiqomahan di jalan da’wah ini …
"SANG MURABBI" KH RAHMAT ABDULLAH

Monday, November 21, 2011

Catatan Pinggiran Orang Pinggiran yang Terpinggir di Pinggiran

Separuh dari judul bloq ku kali ini terinspirasi dengan lagu bang franky

Saya sangat antusias ketika akan menulis tentang judul ini, begitu menggelora dalam rongga dadaku untuk menuliskan setiap kalimat yang meletup letup sebagai ungkapan isi hatiku.

Ya.. orang pinggiran, definisinya jelas adalah orang orang yang terpinggirkan, baik karena memang mereka tidak kompeten dibidang tersebut atau karena tidak mendapatkan kesempatan untuk berkarya atau yang lebih pahit lagi adalah karena mereka dianggap tidak bisa sebab berbeda pola dan cara pandang dengan orang yag memegang kekuasaan....
dalam konteks yang ketiga inilah yang akan menjadi fokus sesuai dengan judul dari note kali ini.

Aku sendiri bisa merasakan bagaimana jadi orang pinggiran.... bertahun tahun tanpa mampu berbuat, seakan dipaksa untuk menikmati situasi itu.... getir dirasakan sendiri.........semua keluh kesah ditahan dan dirasakan sendiri......

kembali asa itu mempermainkan diriku... semangat yang menggebu ternyata tak sejalan dengan realitas lapangan, apa daya besarnya kendala yang datang membuat diriku terasa gamang.. tak ada rongga tersisa untuk diriku....... ingin rasanya berteriak untuk menunjukkan eksistensi dir, tapi apalah artinya, jika semuanya sudah terukir indah dan memenuhi relungku....

ingin aku mengatakan padamu, janganlah memandang siapa yang mengeluarkan ide itu, tapi liahtlah.. apa esensi ide itu, jangan2 itu memang benar, atau dirimu yagn memang mencapai kesana tahap pemahamanmu......

tidak melulu ide itu harus tampak, ada kalanya kreasi ide itu baru kelihatan setelah beberapa saat..... itulah yang ingin kesampaikan padamu...... tak cukupkah kekeliruan ini terus menggayuti kita..... tak cukupkah kepapahan ini merongrong kita, sementara dirimu masih sibuk dengan hal hal yang bersifat atribut, level yang sejatinya bukan itu yagn dinilai oleh kita.........

Kemaran ini bukanlah karena aku tidak suka padamu kawan, kekesalan ini bukan pula karena sakit hati.... ini murni pertautan hati kita akan mensikapi realitas yang kita hadapi....

jadi maaf saja wahai sohib ku.... tak ada niatan ku untuk menutup pintu hatiku, tapi engkaulah yang memaksa ku untuk membuat jarak denganmu... sebab menurutmu kita berbeda....

bila sudah mencapai akhir hikayatku... maka kembali perahuku ku kayu pinggiran, kepinggiran yang terdalam.... sambil memaknai betapi cinta itu memang tak mesti diungkapkan dengan kasih sayang....

Wednesday, March 2, 2011

klarifikasi Ikhwanonline terhadap tulisan di eramuslim

Islamedia - Senin tanggal 28 Februari 2011, sebuah media islam di Indonesia, Eramuslim, mempublikasikan sebuah tulisan yang menyesatkan untuk publik di Indonesia. Dengan judul yang menantang dan menggelitik dikatakan bahwa “Sayap Pemuda Ikhwan Mesir Berencana "Memberontak" Terhadap Pimpinan Ikhwan”.

Tulisan tersebut diambil dari surat kabar “El Mashri El Youm” (Egypt Today), sebuah harian di Mesir yang selalu berpandangan miring terhadap sepak terjang perjuangan Ikhwanul Muslimin di Mesir.


Menanggapi pemberitaan sesat tersebut, para pemuda Ikhwanul Muslimin langsung bereaksi dengan membuat sebuah alamat di FACEBOOK dengan judul “Pemuda Ikhwan Tetap Mendukung Qiyadah”. Reaksi tersebut merupakan tanggapan atas koran “El Mashri El Youm” yang menurunkan berita utama tentang ”Sekumpulan Pemuda Ikhwan Berencana Menggalang Aksi Penghapusan Jabatan ‘Maktab Irsyad’ dan ‘Majelis Syura’ Jamaah”. (Bukan seperti yang dilansir Eramuslim yang menyatakan Sayap Pemuda Ikhwan Mesir Berencana Memberontak Terhadap Pimpinan Ikhwan).

Dalam halaman utama account facebooknya, para pemuda Ikhwan menampilkan foto anggota maktab irsyad dan anggota majelis syura jamaah sebagai tanda loyalitas mereka kepada para qiyadahnya. Bahkan mereka menyediakan sebuah kolom khusus untuk menyatakan “Baiat kepada Mursyid Am di Facebook”. Bahkan dalam statusnya dituliskan “Kami Pemuda Ikhwan, Kalian Siapa??”, “Kalian Tidak Pernah Bersama Kami”.

Para pemuda Ikhwan justru mengecam koran “El Mashri El Youm” yang telah berbohong dengan mengatasnamakan Pemuda Ikhwan. Salah seorang Pemuda Ikhwan yang bernama Dr. Abu Abdullah menuliskan dalam komentarnya, “Qiyadah (pemimpin) kami adalah Gagasan kami. Mereka adalah corong keingingan kami. El Mashri El Youm, kalian telah berdusta, kalian hanyalah antek rezim yang ternista”.

Sedangkan Muhammad Syahrur menuliskan, “Ini adalah permainan aparat keamanan yang senang menebar berita bohong di “El Mashri El Youm”. Munir Adib dan Hani El Waziry harus bertanggungjawab. Keduanya adalah penanggungjawab atas informasi yang dipublikasikan di koran tersebut. Koran ini selalu menjelek-jelekkan Ikhwan dan menebar fitnah. Kalian telah gagal menjalankan tugas aparat keamanan”.

Para pemuda yang merupakan sayap resmi dari jamaah Ikhwan dalam pesannya di Facebook menyampaikan bahwa, “Kesatuan dan kekuatan barisan Ikhwan, serta ketsiqohan kepada para qiyadah jamaah lebih besar dan utama daripada berita burung (hoax) yang ada di media. Kami telah hidup dalam Ikhwan hingga beberapa generasi dalam naungan firman Allah ‘Wa’tashimu bi Hablillah Jami’an Wa Laa Tafarroqu’ Ali Imran 3:103 (Berpegang teguhlah kalian kepada tali Allah dan jangan terpecah belah). Kami hidup dibawah naungan dakwah yang penuh barokah yang mengajarkan tentang loyalitas tanpa reserve, ketaatan dengan kesadaran, saling percaya (tsiqoh), ukhuwah yang hakiki, dan selalu memperbaharui sumpah setia (baiat) kepada mursyid yang kami cintai, baiat kepada ikhwah, para asatidz dan qiyadah anggota maktab irsyad”.

M. Said Al Khumaisi menambahkan, “Saya adalah Pemuda Ikhwan, saya tsiqoh kepada para qiyadah Ikhwan. Fikroh kalian apa?? Tidak ada dalam ikhwan yang seperti itu”.

Sedangkan Ibrahim Ismael menuliskan, “Para Qiyadah kami adalah mahkota kehormatan kami. Permatanya yang mengkilap ada di hati kami. Cahaya yang menerangi mata batin kami. Ya Allah, berilah ilham kepada para qiyadah kami dengan gagasan dan amal yang baik. Engkaulah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Account Facebook ini menunjukkan bahwa pemuda ikhwan masih tetap mendukung para qiyadah mereka dan tidak akan melakukan aksi unjuk rasa pada tanggal 17 Maret sebagaimana di lansir surat kabar picisan El Mashri El Youm. Kalaupun ada yang melakukan aksi menuntur pembubaran lembaga seperti Majelis Syura dan Maktab Irsyad, pasti mereka bukan dari pemuda Ikhwan.[ikhwanonline/akm.B]

Thursday, January 6, 2011

Maghligai Cinta

Maghligai Cinta


Album : Puncak Kerinduan
Munsyid : Nuansa
http://liriknasyid.com

Kini berpadulah dua hati dalam mahligai cinta
Ikatan nan agung sempurna sebagian agama
Allah telah menghalalkanmu
Menjadi pendamping bagiku
Dan kau pun t’lah mengikhlaskanku
Menjadi pendampingku

Jagalah keutuhannya
Kukuhkanlah ikatannya
Patuhilah perintah-Nya
Agar Allah menyayangimu
Didiklah anak-anak kita
Jadi anak yang sholeh

Semoga bahagia senantiasa menyertai kita
Walaupun cobaan melanda tetaplah bersabar

Bukankah Allah t’lah janjikan
Surga yang penuh kenikmatan
Rasa sayangku kepadamu
Akan bertambah selalu

Sunday, September 5, 2010

Tehenang suhang

Tehenang suhang adalah catatan ke tiga dari liku perjalanan diriku...........

yang kehenang olehku pas kami pindah ke jalan pranasib itu taon 1987........ pas aku kelas 5 SD............. jadi men sekulah jalan ketingnye lebi jaoh neh humah yang lame..

Pas SD kance kance ku yang maseh pacak ku ingat itu, diantarenye
1. Riki Kurniawan (anak mang cukek dengan Bu Nurma (walikelasku kakgi pas SMP ))
2. Firmansyah (anak mang thoriq, tukang kayu pelawan di parak komplek SDku)
3. Yessi Warastuti ( adek Yoni, anak bu Nurmi, same humahnye di bucu SD ku juge)
4. Tutin handayani.....
5. Edi sarwoko, deni fadilah, Ronyeta, Eva, Neneng)
yang lain la agak 2 lupe namenye,
kampung 4 agokku tinggal nich bukan daerah yang bagus untuk budak sekolah, sebab jarang budak yang sekolah....... banyak lah yang pengangguran dan caka makan di pasar, ade yang dek sekolah, ade yang cuma SD, SMP ato,. yang kuliah tuch seingat aku cuma Marsudi di IAIN raden Fatah palembang....
nah men nak belage cocok dikampungku tu, men dak gawinye maen bola men petang.....

Ade sedikit memory pas aku SD cuma la lupe pas kelas VI ato kelas V, yang kuingat waktu itu lagi siru tentang nak rencana gerhana matahari pas siang ahi tu (ayao pule namnenye juge gerhana matehari, pasti siang lah)

pas tu banyak tahayul yang bekembang, kakgi men gerhana gelap gulite.. ( sampai ade kanceku yang dek masok sekolah waktu itu sangking takutnye), dek jadi ngeleh matehari langsung kakgi bute, sebab matenye diambek raksasa....... yang tehenang olehku adelah aku harus jage adekku yang kelas 1 atau kelas 2 di SD sebelah SD 31, jadi pas ade gerhana matahari itu nak datang, wuih..... jantungku dak dig dug dek tekeruan..... ade takut, tapi ku nak ngeleh juge..... jadi pas hari itu aku bawe senter batu belor (senter batu batere), pas.. tibe masenye, langsung bae aku lahi ke SD adekku nak mastike die aman, sebab kete hang tue2 tu, kadang ade anak kecek lenget pas gerhana........Lahi aku ke SD adekku, ku panggil namenye, pas tega die, langsung bae ku enjuk senter ku ke die, padahal sich gek gelap gelep gine......

taon 1988 aku masok SMP 1 Prabumulih.........wei.. bangganye aku..... sebab itu sekolah favorit di kotaku......... dan kebenaran cuma aku suhang di situ yang sekolah di SMP1, aku masok kelas 1E dengan walikelas Bu Nurma Umar guru bahasa Indonesia(emaknye Riki), yang tehenang olehku aku dudok didepan sebangku dengan Alm. Desi Avero (anak Dusun Prabumuleh) trus sebangku dengan Edi Doyok....... ade guru yang aku takut waktu itu.. bu Karsih guru Fisika, ai takut nian aku dengan ibu itu, galak nyubit di perut, sambil diplinter plinternye busung kite, pacak tenanges.... tambah dek pacak jawab soal die, tambah sakit plinterannye, ai bu itu benges nian.. mentang mentang lakinye plisi...... (syukurnye di raport di enjuk 7 oleh die)

Ade lagi yang guruku yang mantap, Bu Sri Wismarjayati.... (ade FB nye bu Sri ni, hebat ye bu dengan kemajuan teknologi kite pacek ketemu lagi) Bu sri Ini guru matematika, salah satu ciri ibu ini men kite dek pacak jawab soalnye atau salah... di gebuknyo pake penggaris kayu yang panjang 1 meter, bukan lemak di gebuk ibu ini..... die tu men gebuk uhang pakai bagian yang tipis di mistar jadi men ibarat bangunan persegi panjang, men panjang 1 mter, lebar 6 cm, tebal 1 cm, nah yang tebal ini yang u mukul, trus yang di pukul itu bukan awak kite, tapi jari 2 tangan kite, carenye ke 5 ujung jari kite ditangkupkan jadi sikok, nah dipukulnye gek pas yang nangkup itu..... untunglah aku dek ulah kene ai........

yang unik sikok lagi neh guru kelas 1, itu bu Koimah... neh ibu ini aku belajar nyulam pake ramp..hehehhe... pas pelajaran OKK, ai tekun nian kami dulu, pas pelajaran nyulam ini senyi senyap kelas, sampe hengki yusup (sekarang almarhum) yang preman pasar pun dek kuawe nak nolak pelajaran ini, (lucu juge ye membayangkan preman nyulam.....)

Pas kelas 2 aku masuk kelas 2A, salah satu kelas favorit waktu itu, aku sebangku dengan Icon, duduk paling belakang....... wali kelasku Bu Novemi Hasyarah (ayuk icon) guru matematika. di sini aku jadi kelute kelasnye, dengan wakil waktu itu men dak salah Desi rahma Nirmala (pas kelas 3 dio pindah ke pangkalan brandan medan), pas masuk leas 2 inilah aku mulai kenalan dengan anak2 pertamina di kelas..... Waktu itu anak2 pertamina adalah hang yang kami pandang sebagai hang yang wah....... jadi pas kelas 2 ini, men balek sekolah siangnye aku la maen lagi dengan anak2 pertamina ini........landak tiap ahi ke pertamina jalan keting.....
waktu itu terpatri dalam sanubariku.. aku harus jadi pegawai pertamina ... sebab kehidupan ekonominya bikin kami jadi iri........

Dikelas, aku dek de termasuk hang yang pintar nian, tapi dek buyan nian oi... men rangking maseh lah masok 10 besak........

yang selalu kuingat di kelas 2 ini, aku mulai jadi pengurus osis di smp, waktu itu pas ketuo osisnyo Yulius Antoni (sekarang dibatam).
disinilah aku mulai pacak menghindar pas pelajaran fisika bu Karsih..... jadi men pas pelajaran ato maju kedepan sikok 2 jawab soal, aku langsung ijin rapat osis.. hahaha......
trus pas kelas 2 ini, pelajaran PKK nyo mengetik 10 jari samo Pak Darwis (sampe skrang beliau masih ngajar... smoga selalu sehat ya pak), aku juge pernah curang pas ujian mengetik, jadi pas di suruh membuat tengah garis kertas dengan mesin tik untuk judul, aku kurang mahir ( bahase aslinya.. agak bengak)jadi pas kertas uji nye dibagi, trus pas pak darwis meleng matenye, kulepit dikit kertas itu.. jadi pas tengah baris n ujiannye sukses....hahahhaha.. (maaf ye pak)........
taon 1990 aku naek kelas 3 dapat kelas 3A dengan wali kelas Bu Nuriah (guru sejarah)....
ape bai yang ku perbuat di kelas 3 ini , trus memory pedie yang nak kutulis... tunggu ye......to be continued...........................

Monday, August 9, 2010

Kaidah Baru

Dont Be Nerveous My Man, It's gonna be fine to us.................
ucapan itu sering ane pake buat ngademin teman dan sodare kalo pas lagi ada issue yang berkembang ato jika ada kebijakan yang turun laksana titah paduka...............

tau gak kadang ane sendiri pun suka gimana gitu menyikapinya, tapi mo dianggap bagian dari proses ketaatan kali ya............. au....... blass bikin otak kadang agak lola gitu (lola : loading lama, alias otak lemot).....

"gimana gak sich bang".. sambung adek adekku..... " semua semuanya diitung untung rugi mulu, dikit dikit ditinjau secara politik..... yang ikhlas napa" dengan berapi2 disampaikan padaku............

Dalam hatiku bergunam...ini dia nich yang kudu kita beresin, betul juga ya, kalo liat realitas dilapangan koq kayaknya nyambung dengan keluhan adek adekku...... bila semuanya diitung untung rugi secara kaca mata kuda, la pasti seret nich dunia.. semuanya jadi pahit, yang ada lah siapa yang pintar memanfaatkan kesematan, siapa yang bisa menginjak siapa, gak peduli itu sodara yang ikatannya ikatan Nash, melebihi ikatan sodara kandung, sebab udah diikat oleh tali Ad-Dien....

sebenarnya gak tega juga bahasnya... sebab masih butuh pembuktian empiris akan hal ini, dan tidak semua orang yang kita lihat akan seperti itu....

satu kata kunci yang sering aku dendangkan: ' biarlah mereka seperti itu, kita yang ikut berdarah2 tapi orang lain yang memetik hasilnya, kan kata kunci kita Ikhlas..... kataku, boleh jadi kita cuma dapat sedikit di dunia ini, tapi di akherat yang kita lakukan ini adalah suatu investasi yang besar karena kekhlasan... boleh jadi mereka di dunia ini mendapat kenikmatan yang lebih dari kita, tapi mari sama2 kita berdoa semoga kenikmatan yang akan dia terima di akherat tidak berkurang, karena sudah sebagian dijatuhkan ke dunia.

Orang salah wajar, tapi yang kebangetan,, salah tapi gak sadar, lebih kebangetan lagi... salah malah nasehati....

lantas apakah tidak boleh menghitung untung rugi.. kata teman adek ku...... semua kan ada ongkosnya, katanya cukup meninggi.... lagian mereka aja yang menuntut terlalu tinggi.... ya masuk kedunia politik itu seperti itu, semuanya serba abu2...... kan kehadiran kita disana untuk menghilangkan kesenjangan itu.... bila kita bisa bermanfaaat kenapa gak...... (waduh.. tambah rame nich diskusi, kataku.... emang kalo udah masuk ke zona itu pasti rame.. semuanya berlogika dan berfilsafat, ada yang berfilsafat benar karena jelas tuntunannya, ada juga yang berdasarkan logika logika yang tercetus dalam lintasan pikiran... ada juga yang ngotot.. membela dulu.....)

inilah yang ku sebut "kaidah baru" yaitu semuanya berdasarkan pada kepuasan yang bis dikalkulasikan sebagai suatu deret linier yang harus ada feedback nya, setiap benih yang ditanam ya harus bali lagi, begitu singkatnya.....

Kembali ke persoalan tentang bantahan yang dikeluarkan oleh teman adekku..... maka ijinkan aku juga untuk sedikit berlogika dan berfilsafat, walau aku sendiri gak yakin akan hal itu....adalah betul semuanya memang harus dihitung untung ruginya.... orang Rasul aja berniaga juga cari untung dan menghindari rugi, tapi bisa jadi yang tampak pada zahirnya itu rugi, padahal sebenarnya itu adalah perniagaan yang menyenangkan dan menguntungkan, sebab dengan investasi yang kecil yang bermula dari keikhlasan yang dilandasi keimanan yang kuat dan bukan syahwat yang meledak2.... ada yang lebih tinggi lagi yang kita raih jauh dari sekedar keuntungan secara politik, yaitu keberkahan dari Alloh........

Menangis hati ini, miris kadang memandangi wajah ini, sudah kah aku juga terhindar dari kaidah baru itu.............. semoga.

Saturday, July 31, 2010

Nahnu Du’at Qobla Kulli Syai’

Slogan ini sudah tak asing lagi di telinga kita. Sebuah kalimat penuh makna, yang mencerminkan totalitas, kebanggaan, komitmen, semangat, dan militansi para da’i dalam mengemban wadzifah dakwah.

Slogan ini bukan basa-basi, bukan gagah-gagahan. Ia adalah pengingat bagi para aktivis dakwah, bahwa sebagai apa dan menjadi apa pun mereka saat ini—pedagang atau businessman; pejabat atau politisi; pegawai negeri atau professional; buruh atau karyawan; mahasiswa atau pelajar—misi dakwah tidak boleh dilupakan.

Nahnu du’at qabla kulli syai’, kami da’i sebelum sebagai yang lainnya. Oleh karena itu, dakwah hendaknya selalu mengalir bersama aliran darah dan tarikan nafasnya. Selalu mengharu biru seluruh relung-relung jiwanya. Menjadi bagian penting dalam gerak langkah hidupnya.

Sekurang-kurangnya ada empat konsentrasi aktivitas yang tidak boleh lepas dalam keseharian seorang da’i. Jadi apapun ia.

Pertama, nasyrul hidayah, menyebarluaskan hidayah Allah SWT. Apakah secara qoulan (lisan), amalan (amal), atau qudwatan (keteladanan).

Kedua, nasyrul fikrah, menyebarluaskan idealisme agar masyarakat memiliki semangat perjuangan dan dukungan kepada kehidupan yang lebih islami.

Ketiga, menggiatkan aktivitas amar bil ma’ruf dan nahi ‘anil munkar. Aktivitas ini tidak selalu harus berbentuk ‘kerjakan ini’, ‘kerjakan itu’, ‘jangan ini’, atau ‘jangan itu’. Tapi termasuk pula bentuknya adalah berupaya melakukan konsolidasi, koordinasi, dan mobilisasi seluruh potensi positif konstruktif di tengah-tengah masyarakat agar memberikan kemaslahatan bagi umat, bangsa, negara, kemanusiaan, dakwah, dlsb serta melakukan langkah-langkah minimalisasi atau mempersempit ruang gerak kemungkaran.

Keempat, memelihara identitas masyarakat Islam. Simbol-simbol keislaman harus dimunculkan, apakah yang bersifat fisik (bangunan masjid, mushola, madrasah, dll) atau aktivitas (pendidikan Islam, majelis ta’lim, film islami, dll). Idealnya symbol-simbol yang yang dimunculkan itu selaras pula dengan ‘urfil mujtama (tradisi masyarakat) yang tidak bertentangan dengan syariah Islam, agar masyarakat dapat terkondisikan dan menerima Islam dengan senang hati.

Simbol mungkin bukan perkara yang harus dinomor satukan. Tapi ia penting untuk memelihara substansi, terlebih lagi jika symbol tersebut merupakan tuntutan syar’i.

Bergeraklah terus wahai para da’i! Janganlah kau lupakan jati dirimu.Mengalirlah bagaikan air, mengisi seluruh episode kehidupan.

Mewarnai bukan terwarnai.

intima

Monday, May 24, 2010

Pedoman untuk menentukan pilihan harakah Islam adalah dari banyak sisi.

Pedoman untuk menentukan pilihan harakah Islam adalah dari banyak sisi.

Pertama : Ghayah

Ghayah adalah tujuan, baik tujuan utama maupun tujuan antara. Ghayah
sebuah harakah harus terbutki semata hanya untuk Allah Subhanahu Wata`ala
semata. Bukan untuk kepentingan terbatas atau tujuan duniawi semata.
Tetapi untuk mendapatkan ridha Allah SWT dengan menegakkan syariat-Nya.

Kedua : Fikrah Wa Syariah

Konsep pemikirannya yang harus selaras dengan realitas dan idealisme Islam
itu sendiri. Harakah Islam yang menjadi pilihan tidak mungkin mengambil
sistem pemikiran kapitalis, sosialis atau pun sekuleris dalam fikrahnya.
Juga tidak mudah terkecoh dengan pemikiran oreintalis yang suka meracuni
fikrah. Sebaliknya harakah itu haruslah komitmen untuk menerapkan syariat
Islam pada setiap individu dan anggotanya, sebab tujuan akhirnya adalah
penegakan syariah Allah Subhanahu Wata`ala di muka bumi.

Ketiga : Manhaj

Manhaj adalah sistem dasar pergerakan yang harus mengacu kepada sistem
dasar pergerakan dengan pola gerakan dakwah Rasulullah SAW. Pola ini
dipahami secara cerdas dan manhaji sesuai dengan kaidah-kaidah yang lurus
yang terjabarkan dalam fiqhus sirah dan fiqhul harakah.

Keempat : Akhlaq

Yaitu masalah akhlaq dan adab berharakah. Sebuah pergerakan harus punya
akhlaq mulia, mampu membina dengan budi yang luhur dan pendekatan yang
penuh hikmah dan mau`izhah hasanah. Pandai menempatkan diri di tengah
komunitas muslim yang beragama sehingga bisa dengan mudah diterima
kehadirannya oleh semua pihak. Tidak mudah melemparkan tuduhan kepada
sesama muslim, apalagi fitnah keji tanpa konfirmasi. Sebab tanpa akhlaq,
harakah menjadi eksklusif dan cenderung ditakuti dan dijauhi umat.

Kelima : Syumuliyah

Maksunya adalah luasnya ruang lingkup dan cakupan kerja harakah itu yang
tidak bersifat parsial mementingkan satu sisi dengan meninggalkan sisi
lainnya. Sebab Islam itu selain agama juga negara. Maka membuat harakah
yang sepotong-sepotong perhatiannya pada suatu masalah hanya akan membuat
orang memahami Islam menjadi sepotong-sepotong juga.

Keenam : Syuro

Harakah itu harus dipimpin, dimanage dan diarahkan oleh sebuah sistem
syuro yang efektif, aspiratif, komunikatif dan elastis. Isinya haruslah
terdiri dari orang-orang yang ahli dibidangnya serta mampu berpikir yang
menyeluruh namun up to date, sehingga bisa mengantisipasi perubahan zaman
yang seringkali bergerak lebih cepat dengan kebijakan yang tepat dan bisa
dipertanggung- jawabkan.

Ketujuh : Quwwatun Nasyr wal Bina` wa Tanmiyatil Kafa`ah

Yaitu kemampuan untuk menyebarkan fikrahnya kepada khalayak luas dan
diikuti dengan pembinaannya sampai memilik jumlah kader yang besar dan
berkualitas. Juga diikuti dengan pengembangan sumber daya manusianya. Tiga
langkah ini tidak mungkin ditinggalkan, sebab satu dengan lainnya akan
terkait dengan erat. Harakah yang tidak bisa menyebarkan fikrahnya
pastilah tidak akan berkembang. Sebaliknya, punya banyak pengikut tapi
tidak mampu membina, hanya akan melahirkan kumpulan massa yang cair. Dan
bila tidak mampu mengembangkan sumber daya manusia yang dimiliki, harakah
ini akan dipenuhi dengan orang-orang yang kurang produktif sehingga malah
akan membebani harakah itu sendiri. Maka pengembangan potensi SDM menjadi
sesuatu yang mutlak buat sebuah harakan yang besar agar terjadi
diverensiasi kerja dan akfititas.

Kedelapan : At-Tanzhim Al-Matien

Yaitu struktur internal yang solid. Sebab harakah yang punya pengikut
banyak tapi tidak tertata rapi bisa dengan mudah diruntuhkan atau disusupi
oleh lawan. Angka pendukung yang banyak tidak akan membuat lawan menjadi
takut, sebaliknya malah akan menjadi bulan-bulanan bahkan akan
dimanfaatkan untuk kepentingan lawan. Sebaliknya, bila semua pendukung itu
terbina dengan baik dan terstruktur dengan rapi, akan menjadi sebuah
kekuatan yang efektif dan tentu saja amat ditakuti lawan.

Kesembilan : At-Tadarruj fil Khutuwath

Yaitu kemampuan membuat fase-fase langkah dan kebijakan yang tepat sesuai
dengan waktu dan kondisi realitas lapangan. Tentu saja dengan membuat
skala prioritas berdasarkan kajian yang ilmiyah serta pandangan yang
mendalam dari para pengamat dan ahli di bidangnya. Langkah yang melompat
terlalu jauh dengan memaksakan kemampuan tidak akan menghasilkan sesuatu
yang permanen. Dan langkah yang tidak teratur justru akan membuat
kebijakan harakah menjadi semerawut serta membingungkan pengikutnya.

Kesepuluh : Intima`

Yaitu komitmen harakah itu yang harus terbukti selalu setia mengacu kepada
kepentingan Islam. Sebab harakah yang terbukti tidak punya komitmen pada
garis perjuangannya, akan ditinggalkan oleh umat.

2. Untuk mendapatkan pelajaran tentang ilmu-ilmu ke-Islaman, sebenarnya
anda perlu belajar secara khusus pada lembaga yang formal mengajarkan
beragam ilmu itu. Misalnya pada sebuah Universitas Islam di Timur Tengah
seperti Al-Ahzar Mesir, Madinah, Mekkah, Jordan, Syria, Sudan, Kuwait dan
sebagainya. Tentu saja anda disyaratkan bisa berbahasa arab dengan fasih
serta punya latar belakang pendidikan agama yang mencukupi sebagai bekal.
Sehingga anda bisa memliki frmat ilmu keislaman yang lurus dan kemudian
mampu menelaah langsung dari kitab-kitab rujukan berbahasa Arab untuk
pengembangan ilmu itu.

Itu tempat ideal, di bawah itu anda bisa belajar pada ma?had-ma`had Islami
yang juga mulai banyak tersebar di negeri kita. Tentu kualitasnya sedikit
di bawah universitas kaliber international itu. Tapi porsinya jauh lebih
banyak dari sekedar ikut pengajian seminggu sekali, apalagi kalau ustaznya
memang tidak punya latar belakang ilmu syariah, maka kecil kemungkinannya
anda akan diajari ilmu syariah. Sebab orang tidak punya sesuatu pastilah
tidak bisa memberikan sesuatu.

Sementara dengan ikut sebuah pergerakan, terus terang tidak akan menjamin
seseorang akan diajari beragam jenis ilmu-ilmu syariah, sebab sebuah
harakah punya agenda yang banyak, tidak semata-mata terfokus pada
ilmu-ilmu syariah saja. Apalagi di musim perpolitikan seperti ini, maka
wajarlah bila ?menu? nya lebih banyak bicara politik. Ikut sebuah harakah
sebenarnya lebih kental sebagai sarana untuk pembinaan diri, beramal dan
beraktifitas dakwah, sedangkan belajar ilmu syariah lebih jauh harus
kepada institusi yang memang secara khusus didirikan untuk mengajarkan
ilmu syariah.

Di dalam harakah seseorang memang diarahkan untuk beraqidah yang benar,
beribadah yang shahih, punya fikrah yang lurus, berakhlaq yang mulia serta
beramal yang berkesinambungan. Artinya secara umum memang prinsip dasar
Islam sudah tersampaikan dan teraplikasikan, namun untuk mendalami
ilmu-ilmu keislaman lebih lanjut, anda perlu belajar kepada ahlinya yang
secara khusus menguasainya.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

''Tidak semua yang kita anggap baik bagus untuk kita
tetapi yang kita anggap jelek malah bagus untuk kita''

Sunday, May 9, 2010

Kelakuan Kader Dakwah

Aku bertanya kepada diriku: Apa itu kader Dakwah?????????????
semulia apakah mahluk itu??????????? tanyaku lagi,
apakah orang yang sudah jauh malang melintang di dunia persilatan???? jawabku,
atau orang yang secara jenjang sudah tinggi maka dia itu yang disebut kader dakwah yang mumpuni??????????
lantas jika telah mumpuni, berarti boleh dong berleha2 tidak usah turun ke bawah lagi????
lantas boleh cuma memerintah yang juniornya!!!!!!!!!!,
lantas boleh mengelak dari semua amanat yang diberikan dengan sejumlah alasan seperti mengatakan, biarkan orang muda yang mengerjakan ,kami ini sudah banyak melakukan hal hal yang demikian??????

jika memang seperti itu.....dengan malu aku kembali bertanya......... dimanakah posisi aku????????,

rasanya ingin meledak kepalaku mereview semua ini, penat n ada juga rasa frustasiku akan semua ini,

sebagai seorang yang mendoktrin diri dengan doktrin "nahnu Du'at Qobla kulla Syai'in... meleleh air mataku ini, terlalu banyak intrik yang kualami dan kubuat... mungkinkah aku ini masih termasuk katagori kader dakwah...

kadang aku berpikir untuk lari dari semua ini, meninggalkan gelanggang ini, mencoba menata hati, tak sanggup rasanya mengikuti perputaran ini yang mengharuskan kita melakukan percepatan yang belum tentu aku bisa tau arah dan tujuannya, sekelebat asaku muncul.... mungkin gak ya ini juga bisa dikatagorikan kerja dakwah,????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

berpuluh puluh hujaman yang kuterima atau yang kuberikan ada mereka, mencakar, menendang, memukul dang merenggut semua yang ada didepan dengan dalih" INI UNTUK KEPENTINGAN DAKWAH"........, sementara sebagian lagi asyik duduk memberikan instruksi dengan bungkus retorika dan jargon kosong belaka............. anak muda kamu harus ada didepan,,,,,,,,,, anaka muda pecahkan semua yang menghalangimu, yakinlah jalanmu adalah suatu kebenaran yang hakiki, tapi mereka sendiri berkata, kami yang sudah tua ini biarlah mengawal kalian yang masih muda, dulu kami juga melakukan hal yang sama seperti yang kalian lakukan, seolah2 iya mau berkata "telah banyak jasa dan pahala yang kami lakukan untuk dakwah ini, skrg kami telah udzur secara hirarki, kami berikan jalan ini untuk kalian yang masih muda..........

mungkin mereka lupa, bahwa Dakwah tidak mengenal udzur. Anas bin Malik mengatakan tentang Abdullah bin Ummi Maktum yang secara kondisi fisik buta. Tapi pada perang Yarmuk, Abdullah bin Ummi Maktum hadir di tengah para mujahidin di medan perang, memakai baju besi, memegang bendera. Anas bin Malik bertanya, wahai Abdullah bin Ummi Maktum, bukankah Rasulullah saw telah memberi udzur kepadamu? Ia menjawab, “Ya betul, memang dalam Al Quran telah diberikan udzur kepada orang buta. Tetapi saya menginginkan dengan kehadiran saya di sini, di medan perang, paling tidak dapat menambah jumlah tentara Islam.” Alhamdulillah sekarang kita banyak. Coba kalau hanya tiga orang, tidak semangat.

Diceritakan lagi ketika tentara Holagu masuk ke kota Baghdad, terdapat seorang ulama yang juga buta. Dia menghadang tentara dengan mengayunkan pedang ke kanan dan ke kiri barangkali ada musuh yang kena. Secara logika, apa yang bisa dilakukan oleh orang yang dalam kondisi seperti itu? Barangkali kalau dia duduk di rumah dia tidak dosa dan tidak ada pertanggung jawabannya di sisi Allah. Tapi masalahnya, ia ingin berkontribusi, ingin aktif, paling tidak ingin mati syahid. Dan benar ia mati syahid.

Kisah kisah semacam ini banyak dalm kisah tabiin. Yang kita inginkan dalam tarbiyah adalah para kader dakwah seperti itu. Meskipun sudah udzur tetap saja bersemangat berjuang, berjuang, berjuang. Menurut Ahmad bin Hambal kepada muridnya, “mataa yajidul abdu tha’marrahah?” kapan seseorang bisa beristirahat?” Ia menjawab, “Indamaa yatha’u ihda qadamaihi fil jannah” ketika salah satu kakinya menginjak surga. Artinya sebelum mati, tidak ada waktu untuk senang senang istirahat. Laa rahata li du’at illa ba’dal mamaat. Itu kata Syaikh Ahmad Rasyid. Jadi barangsiapa yang mau istirahat silahkan mati. Meskipun setelah itu juga belum tentu bisa istirahat karena tidak ada amal.

Sekali lagi aku terbaring dan membisu disudut relung hatiku........apakah mungkin aku ini kader dakwah............

(Seni memandang kekurangan diri ini, tlah membuatku kaku dan hampa dalam hati)

Monday, April 19, 2010

Karena Jilbab Lebih dari Sekedar Penutup Kepala

Karena Jilbab Lebih dari Sekedar Penutup Kepala


Seruak rasa sedih hadir di hati. Melihat seorang teman lama yang dulu ketika masih dalam kebersamaan begitu anggun dengan jilbab lebarnya dan gamis. Bukan yang pertama kalinya, karena sebelumnya dalam kesempatan yang berbeda, dua orang teman lamapun menyuguhkan hal yang sama di pandang mata, rok yang mengidentikkan dia adalah sorang "akhwat" telah berganti menjadi celana ketat yang sering diidentikkan dengan penampilan modis.

Sebuah diskusi kecil dengan seorang sahabat dekat membicarakan fonemena ini baru saja dilakukan. Begitu mengejutkan mendengar pengalamannya, tentang seorang temannya yang dengan mudah melepas jilbabnya demi mengejar kesenangan pribadi yang semu. Identitas kemuslimahan yang seharusnya bukan sekedar menjadi kebanggaan pada ad-dien ini, bisa dengan mudah lumat dimakan waktu dan keadaan.

Mari kita berbicara tentang kemuslimahan ini!

Allah Swt, Illah semesta alam yang Mahabijak telah memberikan aturan sedemikian rupa tentang bagaimana seorang wanita Islam memerankan tak hanya kewanitaannya, tapi juga status kemuslimahannya dalam kehidupan. Ada ketaatan-ketaatan yang seharusnya dijalani semata bukan karena mengikuti arus lingkungan yang membentuk pribadinya menjadi wanita taat, tapi ruh ketaatan yang pada hakikatnya harus mengerti mengapa dan untuk apa kita melakukannya begitu. Sadar saja tidak cukup tanpa diiringi kepahaman, pun sebaliknya kefahaman juga butuh kesadaran dalam muara keikhlasan melakukan atau meninggalkan ketetapan aturan.

Di zaman yang dengan begitu mudah informasi dan pengetahuan apapun diakses, tentunya kita semua telah mengetahuinya bagaimana Islam mengatur cara seorang muslimah berpakaian. Batasan-batasan syar'i pakaian seperti apa yang dimaksud pakaian takwa pun telah "disepakati" bersama. Tidak tipis dan transparan dalam artian tanpa dobelan ketika memakai, tidak membentuk lekuk tubuh dalam konteks pakaian
sempit/mempet dan tetap fungsi utamanya adalah sebagai pakaian takwa, bukan hiasan tubuh hingga atas nama hiasan itu seseorang menjadi begitu antusias update mode pakaian. Dan masih ada beberapa persyaratan lagi.

Syarat, menjadi tolak ukur benar tentang ketepatan syar'i tidaknya seorang muslimah mengenakan pakaian. Sehingga dalam hal ini, memenuhi semua syarat menjadi suatu kemutlakan. Pun tak perlu berdebat tentang muslimah yang pakainnya syar'i tapi hatinya masih kotor, sehingga argumen pembenaran ini muncul; "yang penting jilbabi dulu hatinya." Karena jelas ketetapan perintah itu, bahwa semua bagian fisik wajib ditutupi kecuali muka dan telapak tangan. Ini perintah yang sangat jelas, tentang bagaimana seorang muslimah memperlakukan fisiknya. Sementara hati adalah konteks lain yang tentunya juga harus diperhatikan.

Namun, masalah baru pun menemukan ruangnya untuk hadir, ketika menutup aurat bagi seorang muslimah hanya difahami sebatas perintah yang harus ditaati. Ketika hanya sebatas mampu menjawab tanya "mengapa harus menutup aurat?" dengan jawaban "karena sudah selayaknya seorang wanita Islam melakukannya begitu, dalilnya jelas dan menjadi kewajiban yang kalau dilanggar berarti dosa".

Mari kita telisik lebih dalam.

Tidak ada yang salah dengan alasan memenuhi kewajiban menutup aurat bagi seorang muslimah, karena memang demikian adanya. Namun, ketika itu hanya difahami sebagai sebuah kewajiban tanpa adanya upaya mengkaji dan mengetahui lebih dalam mengapa Allah SWT yang Maha Penyayang menginginkannya begitu, secara tidak disadari, barangkali seorang muslimah hanya menghargai jilbab sekedar penutup kepala. Padahal, ada nilai lain mampu menjadi karekter kuat alasan jilbab menjadi sesuatu yang patut di pertahankan sesuai syari'at. Sehingga diujungnya, sebuah kesimpulan hadir dari kepahaman dan kesadaran diri, bahwa menjadi muslimah adalah anugerah yang tak hanya harus disyukur tapi juga dijaga oleh diri sendiri.

Jilbab, bukan hanya sekedar penutup kepala. Tapi adalah kehormatan dan harga diri muslimah. Ya, kehormatan dan harga diri, yang dalam hubungan sosial menjadi hal yang sensitif . Sehingga jika demikian seorang muslimah memberi nilai dan arti pada jilbabnya, maka tak ada lagi "tawar menawar" syarat menutup aurat dengan berderet alasan logis namun dangkal dan menjerumuskan.

Bukankah Allah swt telah begitu luar biasa memberikan penjagaan terhadap muslimah agar tidak mudah diganggu dengan perintah diwajibkannya menutup aurat? Dan sungguh, betapa Allah Swt Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

"Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Ahzab 33; 59)

Ditulis oleh: Rifatul Farida (rifa_farida@yahoo.co.id)

Samudra Kehidupan

Setiap nafas yang engkau hembuskan adalah bentuk cinta dan syukur atas karunia,
Setiap detak jantung yang bergermuruh di dadaku adalah sebagai karunia yang tak terbatas

Banyak cerita hidup yang kita jalani, ada kala indah dan berbingkai kebahagiaan adakalanya menyesakkan dada dan melumatkan asa, berlalu dan menghilang di muara.

mungkin itulah gambaran diriku yang mencoba menghayati dan menikmati setiap episode hiduk yang kujalani..

menangis dan mengeluh juga bagian dari perjalanan hidupku, sejujurnya ku akui, cukup banyak realitas yang kuhadapi, kadang kuterima kadang sekuat tenaga kuhadang dengan idealismeku, titik titik itulah yang kadang membuatku terhempas seperti tanpa arah,

banyak orang berkata daku sangat tegar dan keras dalam mengarungi hidup ini, kadang menabrak tatanan yang sudah membumi, tapi itulah bagian dari jati diriku yang ingin kutunjukkan kepadamu, jujur sajalah aku tak sebaik dirimu dan sesuci dirimu, bahkan kalau kita coba sandingkan amalanmu dengan amalanku, sangat jauh dan tak pantas untuk lihat, kadang aku merasa diriku ini hanyalah sekedar beban yang hanya menyusahkan orang saja, beribu kali kawan kucoba menata diriku, berbagai cara kulakukan mengatur langkahku, kumaki diriku, kupukul jantungku dan kucampakkan hatiku agar engkau tau betapa lemahnya diriku.

pernahkah engkau membayangkan betapa hitamnya diriku, dan betapa besarnya dosaku, jangan kau pandang aku hanya sebagai orang yang suci kawan, sungguh tak sanggup aku membayangkan betapa besarnya nanti kebencian itu padaku saat kutelanjangi diriku.

Ijinkan aku memalingkan muka ku kawan, malu aku menatap senyum menawanmu, ijinkan aku bersembunyi dibalik congkak dan angkuhnya batu itu agar engkau tak tau betapa tak jauh bedanya aku dengan batu itu.

kututup mata ini, kututup hati ini, kukafani diriku, agar engkau tak lagi memandang takjub pada diriku..


(episode dahaga cintaku............)

Wednesday, December 30, 2009

arsip Mihwar Bekasi tahun 2006

BEKASI DALAM RENGKUHAN MENUJU MASA DEPAN YANG GEMILANG
(Sebagai sebuah terget yang akan menjadi Cikal kemenangan Dakwah)
*Asari (PLH DPC Mustika Jaya Bekasi )
**Tulisan ini pernah dimuat di buletin Mihwar Bekasi dalam menyambut MUSDA 2006

   

“Menjadi PARTAI DAKWAH yang Kokoh untuk Melayani & Memimpin bangsa”
(Rencana Strategis DPP PKS 2005-2010)
Pengantar :
“Bendera Sudah Dikibarkan, sungguh Samudera ini Tengah Kita layari, sehasta demi sehasta expansi sedang kita jalani, dan ini adalah saatnya untuk merebut Bekasi yang kita cintai ini, terlepas dari siapapun yang akan menjadi calon pemimpin dari kita, sudah saatnya nilai luhur yang selama ini kita yakini harus disemai dibumi Bekasi.”

Pengantar diatas bukanlah suatu sikap yang berlebihan ataupun semacam slogan kosong yang mencoba membuai kita, tetapi mari kita melihat fakta dan realita yang terjadi ditengah kita. Sebagai data mari ktia lihat perjalanan partai ini mulai dari tahun 1999 (dalam table dibawah ini):

Data 1999 2004
Jumlah Suara 41.000 (5%) 209.000 (22%
Jumlah Kursi 2 Kursi (5.2%) 11 (sebelas) Kursi (22%)

Bila Kita Lihat tabel diatas ada percepatan yang signifikan yang cukup mencengangkan dan kadang kadang masih juga membuat kita terkaget kaget dengan raihan ini, sehingga dapat dikatakan Bekasi adalah Basis dan barometer peta politik PKS Kedepan. Sungguh Betapa Besar Karunia Allah Sehingga Ktia Diberi kemenangan di Bekasi.

Pilkada adalah pertarungan awal untuk merebut kepemimpinan nasional, Pilkada adalah nilai strategis untuk memperluas jaringan dakwah, kita bisa bayangkan betapa indahnya ketika kita dapat menguasai Bekasi ( baca : Walikota Bekasi), sehingga cita cita ”city on the hills” yang indah molek dipandang mata menjadi daya tarik sendiri buat Masyarakat untuk mendukung kita.
Lantas Apa yang harus kita lakukan Untuk mewujudkan cita cita ini:
1. Membangun Citra Positif PKS
Memelihara dan membangun citra Positif PKS adalah suatu nilai yang haris kita jaga, karena dia merupakan awal dari tumbuhnya benih simpati masyarakat.
Selain Citra Positif kita juga harus meminimalisir Citra negatif yang sudah atau akan terjadi, baik itu dari efek luar ataupun case by case.
2. Menjaga Komunikasi yang Positif dan Intensif.
Hal ini penting dan bisa menjadi salah satu wasilah yang efektif untuk mengenalkan jagoan kita (survey membuktikan bahwa dalam pilkada salah satu factor kemenangan dalam pilkada adalah kedekatan dan ketenaran dari sang calon itu sendiri)
3. Nahnu qowman ‘amaliyun
tugas dan tanggung jawab para jundi dakwah adalah kerja, kerja yang berkualias dan kerja yang cerdas, sehingga menghasilkan output yang positif sebelum memasuki masa perang itu sendiri, karena secara logika kader – kader yang ada didaerah masing masing lebih mengenal karakter dan metode apa yang akan digunakan.

Pengelolaan dinamika politik daerah dalam Pilkada, melahirkan pengalaman dakwah tersendiri bagi daerah untuk lebih profesional memahami/menguasai persoalan daerah & lebih mandiri dalam menentukan kebijakan politik-dakwah, serta raihan mashlahat dakwah di daerah.

Bila kita kaji arti strategis Bekasi untuk PKS, betapa sungguh merupakan lompatan yang sangat berarti, dan itu semua membutuhkan sinergi yang besar antar semua element, kita kuat karena kita selalu menjaga ruhiyah kita, kita kuat karena kuatnya/ solidnya struktur tandzhim kita, sudah seharusnya kekuatan yang kita miliki ini ditopang oleh kerja keras kader dan tekad pengurus (baca team sukses) untuk menjadikan cita cita menjadi nyata.

Saturday, December 26, 2009

Izinkan Aku Cuti Dari Dakwah Ini

Jalanan kota masih saja ramai hingga larut malam ini, dengan kendaraan yang terus berlalu lalang, juga dengan kehidupan manusia-manusia malam yang seakan tidak akan pernah mati. Namun kini hatiku tak seramai jalanan di kota ini. Sunyi... Itulah yang sedang kurasakan. Bergelut dengan aktifitas dakwah yang menyita banyak perhatian, baik tenaga, harta, waktu dan sebagainya, seakan menempa diriku untuk terus belajar menjadi mujahid tangguh. Tapi kini, hatiku sedang dirundung kegalauan. Galau akan saudara-saudaraku dalam barisan dakwah yang katanya amanah, komitmen, bersungguh-sungguh namun seakan semua itu hanyalah teori-teori dalam pertemuan mingguan. Hanya dibahas, ditanya-jawabkan untuk kemudian disimpan dalam catatan kecil atau buku agenda yang sudah lusuh hingga pekan depan mempertemukan mereka lagi, tanpa ada amal perbaikan yang lebih baik. Ya… mungkin itu yang ada dibenakku saat ini tentang su'udzhan-ku terhadap mereka, setelah seribu satu alasan untuk berhusnudzhan.

Kini kutermenung kembali akan hakikat dakwah ini. Sebenarnya apa yang kita cari dari dakwah? Dimanakah yang dinamakan konsep amal jama'i yang sering diceritakan indah? Apakah itu hanya pemanis cerita tentang dakwah belaka? Apakah ini yang disebut ukhuwah? Sering terlontarkannya kata-kata "afwan akh, ana gak bisa bantu banyak…" atau sms yang berbunyi "afwan akh, ana gak bisa datang untuk syuro malam ini…" atau kata-kata berawalan "afwan akh…" lainnya dengan seribu satu alasan yang membuat seorang akh tidak bisa hadir untuk sekedar merencanakan strategi-strategi dakwah kedepannya. Kalau memang seperti itu hakikat dakwah maka cukup sudah "Izinkan aku untuk cuti dari dakwah ini", mungkin untuk seminggu, sebulan, setahun atau bahkan selamanya. Lebih baik aku konsenstrasi dengan studiku yang kini sedang berantakan, atau dengan impian-impianku yang belum terpenuhi, atau… dengan lebih memperhatikan ayah dan ibuku yang sudah semakin tua, toh tanpa aku pun dakwah tetap berjalan, bukan???

Saudaraku…. Memang dalam dunia dakwah yang sedang kita geluti seperti sekarang ini, tidak jarang kita mengalami konflik atau permasalahan-permasalahan. Dari sekian permasalahan tersebut terkadang ada konflik-konflik yang timbul di kalangan internal aktivis dakwah sendiri. Pernah suatu ketika dalam aktivitas sebuah barisan dakwah, ada seorang ikhwan yang mengutarakan sakit hatinya terhadap saudaranya yang tidak amanah dengan tugas dan tanggungjawab dakwahnya. Di lain waktu di sebuah lembaga dakwah kampus, seorang akhwat "minta cuti" lantaran sakit hatinya terhadap akhwat lain yang sering kali dengan seenaknya berlagak layaknya seorang bos dalam berdakwah.

Pernah pula suatu waktu seorang kawan bercerita tentang seorang ikhwan yang terdzalimi oleh saudara-saudaranya sesama aktifis dakwah. Sebuah kisah nyata yang tak pantas untuk terulang namun penuh hikmah untuk diceritakan agar menjadi pelajaran bagi kita. Ceritanya, di akhir masa kuliahnya sebut saja si X (ikhwan yang terdzalimi) hanya mampu menyelesaikan studinya dalam waktu yang terlalu lama, enam tahun. Sedangkan di lain sisi, teman-temannya sesama (yang katanya) aktifis dakwah lulus dalam waktu empat tahun. Singkat cerita, ketika si X ditanya mengapa ia hanya mampu lulus dalam waktu enam tahun sedangkan teman-temannya lulus dalam waktu empat tahun? Apa yang ia jawab? Ia menjawab "Aku lulus dalam waktu enam tahun karena aku harus bolos kuliah untuk mengerjakan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan oleh saudara-saudaraku yang lulus dalam waktu empat tahun."

Subhanallah… di satu sisi kita merasa bangga dengan si X, dengan militansinya yang tinggi beliau rela untuk bolos dan mengulang mata kuliah demi terlaksananya roda dakwah agar terus berputar dengan mengakumulasikan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan teman-temannya. Namun di sisi lain kita pun merasa sedih… sedih dengan kader-kader dakwah (saudara-saudaranya Si X) yang dengan berbagai macam alasan duniawi rela meninggalkan tugas-tugas dakwah yang seharusnya mereka kerjakan.

Saudaraku…. Semoga kisah tersebut tidak terulang kembali di masa kita dan masa setelah kita, cukuplah menjadi sebuah pelajaran berharga…. Semoga kisah tersebut membuat kita sadar, bahwa setiap aktifitas yang di dalamnya terdapat interaksi antar manusia, termasuk dakwah, kita tiada akan bisa mengelakkan diri dari komunikasi hati. Ya, setiap aktifis dakwah adalah manusia-manusia yang memiliki hati yang tentu saja berbeda-beda. Ada aktifis yang hatinya kuat dengan berbagai macam tingkah laku aktifis lain yang dihadapkan kepadanya. Tapi jangan pula kita lupa bahwa tidak sedikit aktifis-aktifis yang tiada memiliki ketahanan tinggi dalam menghadapi tingkah polah aktifis dakwah lain yang kadang memang sarat dengan kekecewaan-kekecewaan yang sering kali berbuah pada timbulnya sakit hati. Dan kesemuanya itu adalah sebuah kewajaran sekaligus realita yang harus kita pahami dan kita terima.

Namun apakah engkau tahu wahai sahabat-sahabatku? Tahukah engkau bahwa seringkali kita melupakan hal itu? Seringkali kita memukul rata perlakuan kita kepada sahabat-sahabat kita sesama aktifis dakwah, dengan diri kita sebagai parameternya. Begitu mudahnya kita melontarkan kata-kata "afwan", "maaf" atau kata-kata manis lainnya atas kelalaian-kelalaian yang kita lakukan, tanpa dibarengi dengan kesadaran bahwa sangat mungkin kelalaian yang kita lakukan itu ternyata menyakiti hati saudara kita. Dan bahkan sebagai pembenaran kita tambahkan alasan bahwa kita hanyalah manusia biasa yang juga dapat melakukan kekeliruan.

Banyak orang bilang bahwa kata-kata "afwan", "maaf" dan sebagainya akan sangat tak ada artinya dan akan sia-sia jika kita terus-menerus mengulangi kesalahan yang sama.
Wahai sahabat-sahabatku… memang benar bahwasanya aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, bukan malaikat, sehingga tidak luput dari kelalaian, kesalahan dan lupa. Tapi di saat yang sama sadarkah kita bahwa kita sedang menghadapi sosok yang juga manusia biasa? bukan superman, bukan pula malaikat yang bisa menerima perlakuan seenaknya. Sepertinya adalah sikap yang naif ketika kesadaran bahwa aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, hanya ditempelkan pada diri kita sendiri. Seharusnya kesadaran bahwa aktifis dakwah adalah manusia biasa itu kita tujukan juga pada saudara kita sesama aktivis dakwah, bukan cuma kepada kita sendiri. Dengan begitu kita tidak bisa dengan seenaknya berbuat sesuatu yang dapat mengecewakan, membuat sakit hati, yang bisa jadi merupakan sebuah kezhaliman kepada saudara-saudara kita.


Saudaraku…adalah bijaksana bila kita selalu menempatkan diri kita pada diri orang lain dalam melakukan sesuatu, bukan sebaliknya. Sehingga semisal kita terlambat atau tidak bisa datang dalam sebuah aktivitas dakwah atau melakukan kelalaian yang lain, bukan hanya kata "afwan" yang terlontar dan pembenaran bahwa kita manusia biasa yang bisa terlambat atau lalai yang kita tujukan untuk saudara kita. Tapi sebaliknya kita harus dapat merasakan bagaimana seandainya kita yang menunggu keterlambatan itu? Atau bagaimana rasanya berjuang sendirian tanpa ada bantuan dari saudara-saudara kita? Sehingga dikemudian hari kita tidak lagi menyakiti hati bahkan menzhalimi saudara-saudara kita. Sehingga kata-kata "Akhi… ukhti… Izinkan aku cuti dari dakwah ini" tidak terlontar dari mulut saudara-saudara kita sesama aktifis dakwah. Semoga…

Tuesday, December 22, 2009

We Love U Mom

Lelaki itu sudah mengabdi pada ibunya sampai tuntas. Ia menggendong ibunya yang lumpuh. Memandikan dan mensucikannya dari semua hadatsnya. Ikhlas penuh ia melakukannya. Itu balas budi dari seorang anak yang menyadari bahwa perintah berbuat baik kepada orang tua diturunkan Allah persis setelah perintah tauhid.

Tapi entah karena dorongan apa ia kemudian bertanya pada Umar bin Khatab: “Apakah pengabdianku sudah cukup untuk membalas budi ibuku?” lalu Umar pun menjawab: “tidak! Tidak cukup! Karena kamu melakukannya sembari menunggu kematiannya, sementara ibu merawatmu sembari mengharap kehidupanmu”.

Tidak! Tidak! Tidak!

Tidak ada budi yang dapat membalas cinta seorang ibu. Apalagi mengimbanginya. Sebab cinta ibu mengalir dari darah dan ruh. Anak adalah buah cinta dua hati. Tapi ia tidak dititip dalam dua rahim. Ia dititip dalam rahim sang ibu selama sembilan bulan: disana sang hidup bergeliat dalam sunyi sembari menyedot saripati sang ibu. Ia lalu keluar diantara darah: inilah ruh baru yang dititip dari ruh yang lain.

Itu sebabnya cinta ibu merupakan cinta misi. Tapi dengan ciri lain yang membedakannya dari jenis cinta misi lainnya, darah! Ya, darah! Anak adalah metamorfosis dari darah dan daging sang ibu, yang lahir dari sebuah kesepakatan. Cinta ini adalah campuran darah dan ruh. Ketika seorang ibu menatap anaknya yang sedang tertidur lelap, ia akan berkata di akar hatinya: itu darahnya, itu ruhnya! Tapi ketika ia memandang anaknya sedang merangkak dan belajar berjalan, ia akan berkata didasar jiwanya: itu hidupnya, itu harapannya, itu masa depannya! Itu silsilah yang menyambung kehadirannya sebagai peserta alam raya.

Itu kelezatan jiwa yang tercipta dari hubyngan darah. Tapi diatas kelezatan jiwa itu ada kelezatan ruhani. Itu karena kesadarannya bahwa anak adalah amanat langit yang harus di pertanggungjawabkan di akhirat. Kalau anak merupakan isyarat kehadirannya dimuka bumi, maka ia juga penentu masa depannya di akhiat. Dari situ ia menemukan semangat penumbuhan tanpa batas: anak memberinya kebanggaan eksistensial, juga sebuah pertanggungjawaban dan sepucuk harapan tentang tempat yang lebih terhormat disurga berkat doa-doa sang anak.

Dalam semua perasaan itu sang ibu tidak sendiri. Sang ayah juga berserikat bersamanya. Sebab anak itu bukti kesepakatan jiwa mereka. Mungkin karena kesadaran tentang sisi dalam jiwa orang tua itu, DR. Mustafa Sibai menulis persembahan kecil dihalaman depan buku monemetalnya “Kedudukan Sunnah Dalam Syariat Islam”. Buku ini, kata Sabai, kupersembahkan pada ruh ayahandaku yang senantiasa melantunkan doa-doanya? “Ya Allah, jadikanlah anakku ini sebagai sumber kebaikanku di akhirat kelak”.

Doa sang ibu dan ayah selamanya merupakan potongan-potongan jiwanya! Karena itu ia selamnya terkabul!

Monday, December 21, 2009

Serial Kepahlawanan

Serial Kepahlawanan

Pesan Untuk Orang-Orang BiasaKumpulan tulisan ini adalah anak-anak zamannya. Lahir saat badai menerpa seluruh sisi kehidupan bangsa kita. Kumpulan tulisan ini adalah kerja kecil untuk tetap mempertahankan harapan dan optimisme kita ditengah badai itu.

Krisis adalah takdir semua bangsa. Ia tidak perlu disesali. Apalagi dikutuk. Kita hanya perlu meyakini sebuah kaidah, bahwa masalah kita bukan pada krisis itu terjadi. Itu tanda kelangsungan hidup atau kehancuran sebuah bangsa.

Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan kebumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali kelangit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis.

Mereka tidak harus dicatat dalam buku sejarah. Atau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Mereka juga melakukan kesalahan dan dosa. Mereka bukan malaikat. Mereka hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Mereka merakit kerja-kerja kecil jadi sebuah gunung: karya kepahlawanan adalah tabungan jiwa dalam masa yang lama.

Orang-orang biasa yang melakukan kerja-kerja besar itulah yang kita butuhkan di saat krisis. Bukan orang-orang yang tampak besar tapi hanya melakukan kerja-kerja kecil lalu menulisnya dalam autobiografinya. Semangat untuk melakukan kerja-kerja besar dalam sunyi yang panjang itulah yang dihidupkan kumpulan tulisan ini. Maka tulisan-tulisan ini mencoba menghadirkan makna-makna yang melatari sebuah tindakan kepahlawanan. Bukan sekedar cerita heroisme yang melahirkan kekaguman tapi tidak mendorong kita meneladaninya.

Para pahlawan bukan untuk dikagumi. Tapi untuk diteladani. Maka makna-makna yang melatari tindakan mereka yang perlu dihadirkan ke dalam kesadaran kita. Jadi tulisan-tulisan ini adalah pesan untuk orang-orang biasa, seperti saya sendiri, atau juga anda para pembaca, yang mencoba dengan tulus memahami makna-makna itu, lalu secara diam-diam merakit kerja-kerja kecil menjadi sebuah gunung karya.

Sukses blog ini tidak perlu diukur dengan tiras besar. Tapi jika ada satu-dua hati yang mulai tergerak, dan mulai bekerja, saya akan cukup yakin berdoa kepada Allah: "Ya Allah, Jadikanlah kerja kecil ini sebagai kendaraan yang akan mengantarku menuju ridha dan surga-Mu.


~ Anis Matta ~

Learning

Pengetahuan kita memang sedikit. Teramat sedikit. Hanya seperti setetes embun di lautan pengetahuan Allah. Itupun tidak bisa dengan sendirinya menciptakan peristiwa-peristiwa kehidupan kita. Kesalahan kita, dengan begitu, selalu ada di situ; saat di mana kita menafsirkan seluruh proses kehidupan kita dengan pengetahuan sebagai tafsir tunggal. Tapi setetes embun itu yang sebenarnya memberikan sedikit kuasa bagi manusia atas peserta alam raya lainnya, dan karenanya membedakan dari mereka.

Walaupun bukan dalam kerangka hubungan kausalitas mutlak, Allah tetap saja menyebutnya sultan; kekuasaan, kekuatan. Pengetahuan menjadi kekuasaan dan kekuatan karena Allah dengan kehendak-Nya meniupkan kuasa dan kekuatan itu ke dalamnya kapan saja Ia menghendakinya. Dan karena pengetahuan itu adalah input Allah yang diberikannya kepada akal sebagai infrastruktur komunikasi manusia dengan-Nya, maka ia menjadi penting sebagai penuntun bagi kehidupan manusia. Dalam kerangka itulah Allah mengulangi kata ilmu, dengan seluruh perubahan morfologisnya, lebih dari 700 kali dalam Al-Qur'an. Di jalur makna seperti itu pula Rasulullah SAW mengatakan: "Siapa yang menginginkan dunia hendaklah ia berilmu. Siapa yang menginginkan akhirat hendaklah ia berilmu. Siapa yang menginginkan kedua-duanya hendaklah ia berilmu."

Ada sesuatu yang tampak tidak bertemu di sini; antara ilmu yang sedikit, dan kuasa yang diberikan Allah pada ilmu yang sedikit itu. Yang pertama menyadarkan kita akan ketidakberdayaan kita. Tapi yang kedua menggoda kita dengan kekuasaan besar atas dunia kita. Kisah Fir'aun, Haman dan Qarun, adalah kisah orang-orang yang gagal menemukan titik temu antara keduanya. Sebaliknya ada kisah Yusuf dan Sulaiman yang menemukan simpul perekat antara kedua situasi itu.

Yusuf menguasai perbendaharaan negara karena ia, seperti yang beliau lukiskan sendiri. Hafiz 'aliim; penjaga harta yang tahu bagaimana cara menjaganya. Ilmu tentang bagaimana menjaga harta kekayaan negara telah memberinya posisi tawar politik yang kuat dalam kerajaan. Bergitu juga dengan kerajaan Sulaiman yang disangga oleh para ilmuwan yang bahkan melampaui kedalaman ilmu pasukan jinnya. Sebab pasukan Jin hanya mampu memindahkan singgasana Balqis dari Yaman ke Palestina dalam waktu antara duduk dan berdirinya Sulaiman. Sementara para ilmuwannya mampu memindahkan singgasana itu dalam satu kedipan mata. Itu bukan pengiriman data dan suara seperti dalam sms dan hubungan telepon. Tapi pengiriman barang atau cargo.

Luar biasa. Bukan terutama pengetahuannya yang luar biasa. Tapi tafsir Sulaiman atas itu semua: "Ini adalah keutamaan dari Tuhanku, yang dengan itu Ia hendak mengjui aku, apakah aku akan bersyukur atau mengingkari (kufur) nikmat itu." Sulaiman memahami bahwa Allahlah yang meniupkan sedikit kuasa pada pengetahuan itu. Sedikit kuasa itu membuatnya percaya diri di depan Balqis dengan menggunakan diplomasi teknologi dalam menyampaikan risalah, tapi juga membuatnya rendah hati dan bersyukur di depan Allah.

Itulah kata kuncinya: kerendahan hati dan kepercayaan diri. Persis seperti embun; sejuk karena kerendahan hati, tapi tak pernah berhenti menetes karena percaya bahwa dengan kelembutannya ia bisa menembus batu. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran Majalah Tarbawi edisi 217]

Renungan Akhir Tahun

Sahabat…., tanpa terasa kita sudah hidup lagi di akhir tahun, apakah tahun depan kita masih diberi kesempatan untuk bernafas kembali menikmati indahnya segala ciptaan dan nikmatNYA ? ataukah tahun ini adalah akhir dari kehidupan kita ? detik demi detik terus berlalu meninggalkan kita tanpa kita dapat kembali lagi ke detik-detik waktu tersebut, apa yang telah dan akan kita persiapkan untuk menghadapai suatu hari yang tak ada lagi sandiwara?, adakah karya nyata yang akan menolong dan mengekalkan amal-amal kebaikan kita ?

Inilah kisah untuk bahan renungan kita di penghujung tahun ini

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira
di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet.

Baju merahnya yg Kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan
kanannya memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya
untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram Ikatan sabuk
celana ayahnya.

Yani dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar
sejenak ke kanan & kemudian duduk Di atas seonggok nisan "Hj Rajawali
binti Muhammad 19-10-1915:20- 01-1965"

"Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo'a untuk nenekmu" Yani melihat
wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yg mengangkat ke atas dan
ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo'a
untuk Neneknya...

"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah." Ayahnya mengangguk
sembari tersenyum, sembari memandang pusara Ibu-nya.

"Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya Yah..." Kata Yani
berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung. "Ya, nenekmu
sudah di dalam kubur 42 tahun ... "

Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana.
Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut "Muhammad Zaini:
19-02-1882 : 30-01-1910"

"Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya Yah",
jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya
mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya.
"Memangnya kenapa ndhuk ?" kata sang ayah menatap teduh mata anaknya.
"Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur
dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa dineraka" kata Yani sambil
meminta persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?"


Ayahnya tersenyum, "Lalu?"
"Iya .. Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42
tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah
42 tahun nenek senang dikubur .... Ya nggak yah?" mata Yani berbinar
karena bisa menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya.

Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya
cemas . "Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek.

Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Di atas sajadahnya,
memikirkan apa yang dikatakan anaknya... 42 tahun hingga sekarang...
kalau kiamat datang 100 tahun lagi...142 tahun disiksa .. atau bahagia
dikubur .... Lalu Ia menunduk ... Meneteskan air mata...

Kalau aku meninggal .. Lalu aku belum sempat bertaubat atas dosa-dosaku ...lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti aku akan disiksa 1000 tahun?
Innalillaahi wa inna ilaihi rooji'un .... Air matanya semakin banyak
menetes, sanggupkah aku selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun
ke depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu aku
akan disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah
lagi?
Tahankah? padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi
kemarin aku sudah tak tahan?

Ya Allah.....betapa aku belum sanggup untuk Kau panggil karena beban dosa yang semakin hari semakin menggunung ( Ia semakin menunduk, tangannya terangkat, keatas bahunya
naik turun tak teratur....dadanya gemuruh, air matanya semakin membanjiri jenggotnya)

Allahumma as aluka husnul khootimah….( ya Allah aku mohon kebaikan di akhir hayatku ) berulang Kali di bacanya DOA itu hingga suaranya serak ... Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan Bambu. Di betulkannya
selimutnya. Yani terus tertidur.... tanpa tahu, betapa sang Ayah
sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah
kehidupan... Dan apa yang akan datang di depannya...

"Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku..."

Habis Sholat Isya , Gadis kecil itu mendatangi kepada ayahnya yang belum selesai sholat sunnah.Setelah mengucapkan salam, Sang ayah menatap anaknya.
" ada Apa Nak ? "
“Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita?”.

Ayahnya memandang kepada yani kecil itu dan berkata,
“Tidak, nak. Manusia sering melakukan kekhilafan secara sadar maupun tidak. Itulah kenapa kita diperintahkan memohon ampun kepada Alloh setiap hari”.

Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya dan berkata lagi,
“Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun?”

Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putrinya.

“Oh ayah, bagaimana kalau 1 bulan, apakah kita bisa hidup
tanpa melakukan kesalahan?”

Ayahnya tertawa, “Itu sangat sulit, nak”.

“OK ayah, ini yang terakhir kali, apakah kita bisa
hidup tidak berdosa dalam 1 jam saja?”.

Ayahnya berfikir sebentar.kemudian Ia mengangguk,
"Jika dia berusaha dan Alloh memberikan Hidayah. kemungkinan besar bisa".

Anak ini tersenyum lega.
"Jika demikian, aku akan berusaha hidup benar dari jam ke jam, ayah.
Lebih mudah menjalaninya, dan aku akan menjaganya
dari jam ke jam, sehingga aku dapat hidup dengan benar.... "

Sang Ayah berkaca-kaca menatap Putrinya:
" Apa yang kau katakan penuh dengan Hikmah, semoga Alloh selalu memberimu petunjuk.."

Suatu hari Rosulullah bertanya kepada seorang Sahabatnya :
"Bagaimana kondisimu hari ini, wahai Hudzaifah?" tanya Rosulullah.

Dengan percaya diri ia menjawab,"Alhamdulillah, ya Rosulullah, saat ini aku menjadi seorang mukmin yang kuat iman." Rosulullah bertanya kembali, "Hai Hudzaifah, sungguh segala sesuatu itu ada buktinya, maka apa bukti dari pernyataanmu itu?"

Jawab hudzaifah r.a. "Ya Rosulullah, tidak ada suatu pagi pun yang aku hidup padanya dan aku berharap untuk sampai pada sore hari, dan tiada sore pun yang aku hidup padanya dan aku berharap untuk sampai pagi hari, melainkan aku melihat dengan jelas didepan mataku syurga yang penduduknya bercanda ria menikmati keindahannya dan aku melihat neraka dengan penghuninya yang berteriak menjerit histeris merasakan dahsyatnya sikasa."

Rosulullah Saw mengatakan, " Arofta falzam, kamu sudah tahu maka komitmenlah dengan apa yang kamu tahu."

Bersama Dakwah

Landasan Hukum Taat kepada Pemimpin/Qiyadah (مشروعية طاعة الإمام)

Pertama, QS. An-Nisaa' : 59

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu... (QS. An-Nisaa' : 59)

Semua mufassirin sepakat bahwa khalifah (amirul mukimin) adalah ulil amri yang harus ditaati dalam ayat di atas. Sebagian mufassirin menjelaskan bahwa selain khalifah, orang yang mengurusi urusan kaum mukimin (seperti gubernur, dan lain-lain) juga termasuk ulil amri yang dimaksudkan dalam ayat di atas. Begitu pula para ulama'.
Sejak tahun 1924 umat Islam tidak lagi memiliki khalifah bersamaan dengan hilangnya kekhilafahan Islam. Para ulama' kemudian berbeda pendapat apakah pemerintah-pemerintah sekarang termasuk ulil amri atau bukan. Tetapi bagi jamaah atau harakah Islam yang berjuang menegakkan Islam, para pemimpinnya adalah termasuk ulil amri. Dengan demikian sikap yang diperintahkan kepada pemimpin harakah (qiyadah) adalah taat.

Kedua, QS. Al-Maidah : 7

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمِيثَاقَهُ الَّذِي وَاثَقَكُمْ بِهِ إِذْ قُلْتُمْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: "Kami dengar dan kami taati". Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengetahui isi hati(mu). (QS. Al-Maidah : 7)

Secara khusus, ayat di atas memang berbicara tentang orang-orang yang berbaiat kepada Rasulullah SAW. Namun, inilah karakter orang-orang yang beriman. Saat mereka sudah terhimpun dalam jamaah, terlebih ketika telah berjanji untuk taat dalam kehidupan berjamaah, tidak ada respon lain dari setiap keputusan dan perintah qiyadah kecuali "sami'na wa atha'na"; kami mendengar dan kami taat.

Batasan Taat (حدودها)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلً

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisaa' : 59)

Para ulama' banyak mengambil dari teks ayat ini untuk menjelaskan karakteristik ketaatan kepada Allah, Rasul dan ulil amri. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan ketaatan mutlak yang tidak bisa ditawar. Karenanya pada kata sebelum Allah dan Ar-Rasul langsung didahului dengan kata "Athii'uu". Sementara ketaatan kepada ulil amri hanya didahului dengan "wa". "Athii'uu"-nya mengikuti kata sebelumnya.

Artinya, bahwa ketaatan kepada pemimpin (qiyadah) merupakan ketaatan yang segaris dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika apa yang diperintahkan sejalan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka kita wajib mentaati qiyadah. Tetapi jika perintah itu bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka tidak wajib ditaati.

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ

Tiada ketaatan untuk bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam hal makruf (HR. Muslim, dalam riwayat Bukhari "fii ma'shiyatihi")

Ketaatan hanya dalam hal yang makruf. Inilah yang membuat Umar bin Khattab membenarkan sikap pasukannya ketika menolak terjun dalam api yang diperintahkan komandannya. Tetapi ini pula yang harus membuat kita mentaati setiap keputusan jamaah dan qiyadah berkenaan dengan strategi dan kebijakan yang tidak menyalahi Al-Qur'an dan Sunnah, dan dalam hasil syuro telah disimpulkan sebagai ke-ma'ruf-an.

Taat dalam Dakwah (الطاعة فى الدعوة)

Dakwah yang memiliki mega proyek peradaban tentu sangat menghajatkan ketaatan dari setiap kader-kadernya. Mustahil tanpa ketaatan dakwah mampu mencapai tujuannya. Yang terjadi justru adalah munculnya kepentingan-kepentingan yang saling bersifat destruktif bagi dakwah.

Betapa banyak gerakan dakwah yang dulunya dikira akan menjadi besar tiba-tiba kemudian pecah dan menjadi berkeping-keping. Diantara sebab utamanya adalah ketidaktaatan para jundi kepada qiyadah. Sebabnya bisa dari dua arah. Jundi sudah tidak mau taat dan diatur, sementara qiyadahnya juga dianggap tidak pantas ditaati. Kita tidak sedang membicarakan keburukan jamaah tertentu tetapi kita mengambil ibrah dari mereka.

Fenomena Taat kepada Pemimpin (مظاهر طاعة الإمام)
Kalau kita klasifikasikan keputusan jamaah dan intruksi qiyadah, maka secara umum bisa kita golongkan menjadi dua. Pertama, berkenaan dengan hal-hal syar'i. Misalnya tentang pemahaman aqidah, ta'limat mengenai peningkatan kualitas ibadah, dan lain sebagainya. Pada aspek ini kita lebih mudah menilai apakah sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah atau tidak. Selama ini –alhamdulillah, biidznillah- tidak ada masalah dengan hal ini karena Allah menjaga jamaah kita untuk tetap berada di jalan-Nya.

Kedua, adalah keputusan atau kebijakan dan perintah terkait dengan strategi. Alternatif di sini bukan pilihan antara halal dan haram, tetapi antara maslahat dengan maslahat yang lebih besar, atau madharat dengan madharat yang lebih kecil. Di sinilah ketaatan kader banyak diuji dan di sinilah beberapa orang belum lulus dalam menghadapi ujian ini.

Termasuk dalam wilayah ini adalah bagaimana pendekatan dakwah kepada segmen tertentu, siapa yang diajukan sebagai wakil rakyat, siapa yang diajak bermusyarakah dan sebagainya. Itu bukan perkara halal dan haram. Insya Allah semua kebijakan dan keputusan yang diambil sudah melalui hasil syuro yang panjang dan telah didahului dengan analisa dari berbagai sisinya. Dengan demikian saat kebijakan dan keputusan itu disepakati, seharusnya tidak ada sikap lain kecuai sami'na wa atha'na.

Taat adalah Sikap Kita (الطاعة موقَفنٌا)
Ya Allah... jadikanlah kami para kader yang taat kepada-Mu, taat kepada Rasul-Mu, dan taat kepada qiyadah kami dalam semua perkara yang tidak bermaksiat kepada-Mu. Anugerahkanlah kebijaksanaan kepada para qiyadah kami serta bimbinglah mereka agar senantiasa di jalan-Mu dan tuntunlah mereka dalam setiap mengambil keputusan bagi dakwah di jalan-Mu ini.

Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam taat kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu.
Kukuhkanlah, ya Allah, ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahayaMu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepadaMu dan keindahan bertawakkal kepadaMu. Nyalakanlah hati kami dengan berma’rifat padaMu. Matikanlah kami dalam syahid di jalanMu.

Wallaahu a'lam bish shawab.

Sumber (format lebih rapi disertai rasmul bayan):
http://muchlisin.blogspot.com/2009/12/keniscayaan-taat-dalam-harakah-islam.html

Inspiration Story

KETIKA DOSA KITA SEDALAM SAMUDERA (masihkah ada ampunan ? )

Pernahkah kita menghitung dosa yang kita lakukan dalam satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun bahkan sepanjang usia kita ?
Andaikan saja kita bersedia menyediakan satu kotak kosong, lalu kita masukkan semua dosa-dosa yang kita lakukan, kira-kira apa yang terjadi ? Saya menduga kuat bahwa kotak tersebut sudah tak berbentuk kotak lagi, karena tak mampu menahan muatan dosa kita.

Bukankah shalat kita masih "bolong-bolong" ? belum khusyu’ benar, Bukankah pernah kita tahan hak orang miskin yang ada di harta kita ? Bukankah pernah kita kobarkan rasa dengki dan permusuhan kepada sesama muslim ? Bukankah kita pernah melepitkan selembar amplop agar urusan kita lancar ? Bukankah pernah kita terima uang tak jelas statusnya sehingga pendapatan kita berlipat ganda ? Bukankah kita tak mau menolong saudara kita yg dalam kesulitan walaupun kita sanggup menolongnya ? bukankah mata kita belum mampu terjaga dari hal-hal yang terlarang ? dan cara berpakaian kita juga masih berat untuk mengikuti maunya Allah !!!

Daftar ini akan menjadi sangat panjang kalau diteruskan… …

Lalu, apa yang harus kita lakukan ?

Allah berfirman dalam Surat az-Zumar [39]: 53 "Katakanlah: "Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Indah benar ayat ini, Allah menyapa kita dengan panggilan yang bernada teguran, namun tidak diikuti dengan kalimat yang berbau murka. Justru Allah mengingatkan kita untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Allah pun menjanjikan untuk mengampuni dosa-dosa kita.

Karena itu, kosongkanlah lagi kotak yang telah penuh tadi dengan taubat pada-Nya.Kita kembalikan kotak itu seperti keadaan semula, kita kembalikan jiwa kita ke pada jiwa yang fitri .

Jika anda mempunyai onta yang lengkap dengan segala perabotannya, lalu tiba-tiba onta itu hilang. Bukankah anda sedih ? Bagaimana kalau tiba-tiba onta itu datang kembali berjalan menuju anda lengkap dengan segala perbekalannya ? Bukankah Anda akan bahagia ? "Ketahuilah," kata Rasul, "Allah akan lebih senang lagi melihat hamba-Nya yang berlumuran dosa berjalan kembali menuju-Nya!"

Allah berfirman: "Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)." (QS 39:54)

Ada banyak cara untuk kembali kepada Allah dengan mengukir amalan-amalan kecil dengan penuh ketulusan dan berkesinambungan, seperti yang dilakukan oleh seorang nenek dalam kisah dibawah ini :

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan.

Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.
Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.

Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. "Jika kalian kasihan kepadaku," kata nenek itu, "Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya."
Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa.

Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.

Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

"Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya."

Wahai Tuhan Yang Kasih Sayang-Nya lebih besar dari murka-Nya, Ampuni kami Ya Allah